Al-Qur’an
dan hadits bagi umat Islam merupakan sumber ajaran yang palingutama.Penyikapan
terhadap kedua sumber utama tersebut tentu saja tidakberhenti pada tingkat
mampu untuk membaca, menulis, atau menghafalnyasaja.Pada kondisi selanjutnya
seorang Muslim sebaiknya mampu untuk mengartikan Al-Qur’an dan hadits.Kemampuan
dalam mengartikan Al-Qur’an dan hadits menjadigerbang awal untuk memahami
kandungan Al-Qur’an dan hadits.Terampil dalammengartikan Al-Qur’an dan Hadits,
menjadi salah satu bagian dari penguasaan yangharus dimiliki peserta didik.
Pembelajaran mengartikan Al-Qur’an dan Hadits yangdimulai sejak usia beliadiharapkan
akan memberikan hasil yang lebih baik. Untukmenjembatani itu, diperlukan upaya
yang serius dari guru agar anak didiknya mampudan terampil dalam mengartikan
Al-Qur’an dan Hadits dengan lancar dan benar.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan
Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka
mendapat pertentangan yg banyak didalamnya.” Al-Qur’an merupakan.kitab suci
yg berisi petunjuk utk kehidupan umat manusia di dunia ini. Dengan petunjuk
AI-Qur’an kehidupan manusia akan berjalan dgn baik manakala merekamemiliki
problema maka problema itu dapat terpecahkan sehingga ibarat penyakit akan
ditemukan obatnya dgn AI-Qur’an itu. Sebaliknya tanpa petunjuk AI-Qur’an
kehidupan manusia menjadi semraut yg benar dibilang salah yg salah dianggap
benar yg halal dianggap haram dan yg haram dihalalkan begitulah seterusnya.
Sementara problematika hidup selalu bermunculan satu masalah belum
terselesaikan lalu muncul lagi masalah baru yg lbh rumit dan sulit utk memecahkanya.
Oleh krn itu menjadi amat penting bagi kita sebagai umat Islam utk memahami
AI-Qur’an dgn sebaik-baiknya sehingga AI-Qur’an bisa kita pahami dgn benar lalu
kita gunakan sebagai pedoman hidup di dunia ini dgn sebenar-benarnya. Adapun
sebagai da’I lbh penting lagi agar kita bias menda’wahkan Al-Qur’an dgn
sebaik-baiknya. Manakala kita dan kaum Muslimin telah menjadikan Al-Quran
sebagai pedoman dalam hidup ini maka paling kurang ada tiga keuntungan yg akan
kita peroleh. Pertama Kehidupan menjadi terbimbing dalam berbagai aspek.Kedua
mampu mengatasi persoalan-persoalan hidup. Ketiga kehidupan menjadi bersih dari
noda dan dosa. Untuk bisa memahami AI-Qur’an dgn baik ada beberapa pendekatan
yg bisa kita lakukan.
Memahami AI-Qur’an Dengan AI-Qur’an.
AI-Qur’an merupakan wahyu Allah yg antara satu dgn lainya saling membenarkan
dan menafsirkan karenanya tidak akan kita temukan kontradiksi antara satu ayat
dgn ayatlainya Allah berfirman yg artinya “Maka apakah mereka tidak
memperhatikan Al-Qur’an?. Kalau sekiranya AI-Qur’an itu bukan dari sisi Allah
tentulah mereka mandapat pertentangan yg banyak didalamnya.” Ada banyak
contoh tentang memahami ayat dgn ayat AI-Qur’an juga misalnya Ibnu Katsir
menghubungkan ayat 7 dari surat Al-Fatihah dgn surat An-Nisa 69 yg artinya “Dan
barang siapa yg mentaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dgn
orang-orang yg dianugerahi ni’mat oleh Allah yaitu; Nabi-nabi para shidiqin
orang-orang yg mati syahid dan orang-orang yg saleh. Dan mereka itulah teman yg
sebik-baiknya.”
Memahami AI-Qur’an Dengan Hadits Disamping dgn ayat atau
surat lain AI-Qur’an juga bisa dipahami dari hadits melalui penjelasan dari
Rasulullah SAW hal ini krn Rasulullah memang bertugas utk menjelaskan Al-Qur’an
yg diturunkan kepadanya. krn itu hadits-haditsnya bisa kita jadikan rujukan utk
memahami suatu ayat. Diantara contoh tafsir dari hadits Rasulullah SAW adl
sebagaimana yg diriwayatkan oleh lbnu Mas’ud yg artinya Ketika turun ayat ini “Orang-orang
yg beriman dan tidak mencampuradukkan imanya dgn kezaliman..” hal ini
sangat meresahkan para sahabat. Mereka bertanya; “Ya Rasulullah siapakah
diantara kita yg tidak berbuat zalim tertiadap dirinya?”. Beliau menjawab “Kezaliman
disini bukan seperti yg kamu pahami. Tidakkah kamu mendengar apa yg dikatakan
hamba yg shaleh “sesungguhnya mempersekutukan Allah adl kezaliman yg besar.”.
Kezaliman disini adl syirik. Di dalam hadits terdapat juga rincian tentang apa
yg diperintah dan apa yg dilarang serta ketentuan hukum yg difardhukan oleh
Allah SWT. Maka hadits-hadits semacam ini berarti tatsir atau penjelasan atau
suatu ayat didalam Al-Qur’an misalnya didalam AI-Qur’an kaum Muslimin
diperintah utk menunaikan shalat namun AI-Qur’an tidak menjelaskan teknis
pelaksanaan shalat maka shalat Nabi yg tergambar didalam hadits merupakan
penafsiran ayat tentang shalat dan begitulah seterusnya sehingga Al-Qur’an
memang harus kita pahami dgn hadits-hadits baik sisi kandungan maupun teknis
pelaksanaan dari suatu ayat.
Memahami AI-Qur’an Dengan Asbabun
Nuzul. Tidak kurang dari sepertiga Al-Qur’an turun dgn asbabun nuzul . Ini
berarti utk memahami maksud tujuan dan kandungan AI-Qur’an harus kita lakukan
melalui asbabun nuzul. Menurut Manna Khalil Al Qattan dalam bukunya mabahits fi
Ulumil Qur’an mendefinisikan asbabun nuzul “Sesuatu hal yg karenanya AI-Qur’an
diturunkan utk menerangkan status nya pada masa hal itu terjadi baik berupa
peristiwa maupun pertanyaan.” Dengan memahami asbabun nuzul kita menjadi tahu
latar belakang diturunkanya suatu ayat atau surat dan dgn itu pula kita menjadi
tahu makna dan kandungan suatu ayat dan surat serta terhindar dari pemahaman yg
keliru dari kandungan yg sesungguhnya dari satu ayat atau surat. Bahkan dgn
asbabun nuzul pula kita bisa mencegah terjadinya penyalahgunaan makna suatu
ayat utk kepentingan-kepentingan yg justeru bertentangan dgn misi AI-Qur’an.
Memahami AI-Qur’an Dengan Qaul
Sahabat. Para sahabat merupakan generasi yg merasakan suasana turunya AI-Qur’an
apalagi mereka memiliki kesiapan rohani yg kuat utk bisa menerima pesan-pesan
yg terkandung di dalam AI-Qur’an. Karena itu wajar saja apabila utk memahami
AI-Qur’an kita juga harus merujuknya kepada ucapan pemahaman atau penafsiran
para sahabat terhadap AI-Qur’an. Disamping sahabat yg menjadi khalifahada
banyak sahabat yg sering kali menafsirkan AI-Qur’an misalnya saja lbnu Mas’ud
Ubai bin Ka’ab Zaid bin Tsabit Abdullah bin Zubajr Aisyah r. a. dll. Diantara
contoh tentang ayat yg ditafsirkan sahabat adl firman Allah yg artinya “Kemudian
saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan
dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka itu
bersyukur.”. lbnu Abbas menafsirkan ayat tersebut seperti yg dikutip oleh
lbnu Katsir bahwa yg dimaksud dgn syaitan menggoda dari depan adl agar manusia
tidak percaya akan kehidupan akhirat dari belakang agar manusia terlalu cinta
pada dunia dari kanan agar manusia mengabaikan syari’at dan dari kiri agar
manusia lbh cenderung pada dosa dan kemaksiatan.
Memahami AI-Qur’an Dengan Makna
Katanya. AI-Qur’an merupakan kitab suci yg berasal dari bahasa Arab. Oleh krn
itu utk memahami ayat-ayat yg terkandung didalam AI-Qur’an kita perlu
menggunakan pendekatan dari makna kosa kata yg terdapat dari AI-Qur’an itu hal
ini krn meskipun maksud AI-Qur’an tidak persis sama dgn arti harfiyah pada
suatu istilah tapi paling tidak berangkat dari makna kosa kata kita akan
memahami kemana arah atau makna dari suatu ayat. Sebagai contoh didalam
AI-Qur’an terdapat kata “amar ma’ruf dan nahi munkar” yg diterjemahkan dgn
memerintahkan yg baik dan mencegah yg buruk. Secara harfiyah ma’ruf itu artinya
dikenal yakni sesuatu yg sudah dikenal oleh manusia. Kebaikan pada dasarnya
sudah diketahui oleh manusia tapi meskipun manusia sudah tahu tentang kebaikan
belum tentu manusia melakukan kebaikan itu. Adapun munkar artinya sesuatu yg
diingkari keburukan kemaksiatan dan kebathilan disebut munkar krn pada dasarnya
manusia tidak suka kemunkaran itu namun ternyata dgn hwa nfsu (**) manusia
malah melakukan kemunkaran itu makanya mereka harus dicegah dari melakukannya.
Dengan demikian pendekatan makna kata utk memahami kandungan suatu ayat menjadi
sangat penting kita lakukan utk bisa memahami ayat itu sendiri.
Memahami AI-Qur’an Dengan Tafsir Para
Ulama. Kapasitas keilmuan kita yg belum memadai utk memahami AI-Qur’an secara
langsung tidak membuat kita harus berkecil hati utk bisa memahami Al-Qur’an dgn
baik kita mungkin saja bias memahami Al-Qur’an dgn baik dgn membaca dan
mengkaji penafsiran dan para ulama ahli tafsir yg diakui oleh para ulama dan umat
Islam pada umumnya. Kita amat bersyukur krn para ulama itu sangat membantu kita
dalam memahami AI-Qur’an dgn kitab yg mereka tulis. Baik ulama dari dalam
negeri kita sendiri seperti Prof. Dr. Hamka dgn Tafsir Al Azhar Prof.
Dr. Quraish Shihab dgn Tafsir Al Misbah Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddiqi dgn
Tafsir An Nur dll. Sedangkan ulama dari luar antara lain Muhammad bin
Jarir bin Yazid bin Khalid bin Kasir Abu Ja’far At Tabari dgn Tafsir At
Tabari Ismail bin Amr Al Qurasyi bin Katsir dgn Tafsir lbnu Katsir hingga
Sayyid Qutb dgn Tafsir Fi Zilalil Qur’an dll. Demikianlah secara umum
beberapa pendekatan yg harus ditempuh dalam upaya memahami Al-Qur’an dgn
sebaik-baiknya. Ini berarti menjadi keharusan kita bersama utk terus melakukan
tadabbur atau pengkajian terhadap nilai-nilai yg terkandung dalam AI-Qur’an.
Cara Memahami Hadits Nabi Yang Baik Dan
Benar
Sangat penting mengetahui cara
memahami hadits nabi yang baik dan benar. Karena banyak orang-orang yang
membaca Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Nasa’i, imam Tirmidzi
dan seterusnya. yang itu semua meruapakan kitab yang haq, kitabnya para ulama,
kitabnya salafus sholeh, tapi hasilnya apa? mereka mengatakan “siapa pun yang
tidak sependapat dengan kami kafir, siapa pun yang tidak berbait kafir, najis,
haram bagi kita shalat di masjid-masjid mereka dan jika mereka shalat di
masjid-masjid kita harus segera dibersihkan” . padahal bacaan meraka itu
Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Nasa’i, imam
Tirmidzi dan setersunya.
Hal ini bisa terjadi karena
mereka Memaknai qola Allah Dan qola Rosul yang
terdapat pada Al-Quran dan Sunnah hanya sebatas itu saja (sebatas artinya
saja) padahal seharusnya adalah memahami qola Allah Dan qola
Rosul yang terdapat pada Al-Quran dan Sunnah harus sesuai dengan
pemahan para Sahabat. inilah yang tidak mereka lakukan, inilah kesalahan
terbearnya, jika memaknai firaman Allah dan Sabda Rosul saja sudah salah Insya
Allah kesananya Pasti salah. kalo saja mereka mau memahami
Al-Quran Dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat pasti jika
terjadi sebuah permasalahan atau perselisihan mudah menyelesaikannya tinggal
kembali lagi kepada Al-quran dan Sunnah, mudah bukan dan dijamin tidak akan ada
perselisihan, syaratnya cuma satu mereka harus mau rujuk kepada Al-Quran dan
Sunnah yang sesuai dengan pemahaman para sahabat
Contoh jika ada yang berselisi
tentang masalah Aqiqah apakah orang dewasa yang belum di Aqiqah harus
di Aqiqah mereka berselisih tentang masalah tersebut karena ada
haditsnya dari nabi,karena nabi melakukannya. lalu apa yang sebaiknya kita
lakukan? jika kita bukan ahlinya maka serahkan saja pada yang lebih ahli kalo
kita bukan dokter jangan ngaku-ngaku dokter dan seenaknya aja ngasih obat ke
orang yang sakit, begitu pula dalam memahami hadits kalo ada masalah
kembalikanlah kepada yang lebih ahli yaitu para sahabat nabi Shallahu
‘alaihi Wassalam. Apakah Abu Bakar, Umar, zubair mengaqiqahkan dirinya
ketika sudah dewasa? kalo iya maka itulah Al-Haq kalo tidak maka
itu khusus untuk nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam. Berapa banyak perbuatan
nabi yang tidak boleh kita lakukan. inilah alasan mengapa kita harus memahami
hadits nabi sesuai dengan pemahaman para sahabat Radhiallah Anhum.
mereka yang anti bid’ah, anti
Khurafat, Anti Syirik. mereka banyak yang tidak paham mengapa harus mengikuti
pemahaman para sahabat padahalkan nabi bersabda
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ
بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu
tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan
Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi,
Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At
Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).
dalam hadits di atas nabi mengatakan cuma dua
perkara bukan tiga atau empat, kenapa bawa-bawa pemahaman para sahabat.
jawabanya adalah karena ada banyak perbuatan nabi yang kita tidak boleh
mengikutinya. apa buktinya? buktinya adalah seperti puasa yang disambung.
yaitu beliau berpuasa ketika magrib tiba belau tidak makan dan minum apa-apa
nyambung terus sampe waktu sahur, bolehkah kita melakukannya? semua pasti tau
jawabanya adalah tidak boleh, mengapa? karena tidak ada satu pun sahabat yang
melakukannya. contoh lainnya adalah nikah dengan istri lebih dari emapat,
kemudian meletakan pelepah kurma di atas kubur dengan harapan mayat yang berada
dibawa kubur yang disiksa diperingan siksanya ini semua adalah perbuatan nabi
dan tidak ditiru oleh para sahabat. kalo itu sunnah mustahil para sahabat tidak
melakukannya karena para sahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat
melakukan sunnah. maka apapun yang dilakukan oleh para sahabat adalah Al-Haq
dan apapun yang tidak dilakukan oleh para sahabat bukanlah suatu kebaikan.
ingatlah kaidah penting berikut ini :
لو كان خيرا
لسبقون اليه
“Lau Kaana Khairan
Lasabaquuna ilaihi”
Seandainya perbuatan itu baik, maka Rasulullah,
para Sahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in pasti mereka lebih dahulu
mengamalkannya daripada kitaSeandainya perbuatan itu baik, maka Rasulullah,
para Sahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in pasti mereka lebih dahulu
mengamalkannya daripada kita
Memahami Al- Qur’an dan
Al-Hadis sebagai Pedoman Hidup
a.
Pengertian Al-Qur’an
Kata Al-Qur’an berasal dari bahasa
Arab yang berarti bacaan. Hasbi Ash-shiddieqy mengatakan al-Qur’an menurut
bahasa adalah bacaan atau yang dibaca. Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kalam
Allah Swt. Yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril
dengan lafal dan maknanya. Pengertian ini berdasarkan Q.S as-syu’ara/26:
192-193.
Artinya: Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar
diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin
(jibril). (Q.S. asy-Syu’ara/26:192-193).
Artinya: Demi Al-Qur’an yang
penuh hikmah, sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,
(yang berada) diatas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh
(Allah) yang Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Q.S. Yasin/36: 2-5).
Fungsi Al-Qur’an
Menurut Abuddin Nata Al-Qur’an
antara lain berfungsi sebagai dalil atau petunjuk atas kerasaulan Muhammad saw,
pedoman hidup bagi umat manusia, menjadi ibadah bagi yang membacanya, serta
pedoman dan sumber petunjuk dalam kehidupan.
Secara umum, fungsi
Al-Qur’an bagi kehidupan manusia, antara lain:
- Sebagai petunjuk bagi manusia
agar hidupnya berada dijalan Allah Swt.
- Merupakan nikmat bagi
orang-orang yang beriman.
- Sebagai kabar gembira bagi
orang-orang yang beriman karena Allah Swt menjanjikan balasan keimanan
dengan nikmat di surga.
- Sebagai pendidikan moral yang
sempurna karena di dalamnya terdapat kisah-kisah umat terdahulu yang dapat
dijadikan pelajaran dalam memilih jalan kehidupan.
b.
Pengertian Hadis
Kata hadis berasal dari bahasa Arab
yakni al-hadis, jamaknya al-ahaadits, al-hidsan dan al-hudsan. Dari
segi bahasa, kata ini memiliki banyak arti, diantaranya: (1) al-jadid (yang
baru), lawan dari al-qadim (yang lama), (2) al-khabar (kabar atau
berita).
Hadis dengan pengertian khabar seperti tersebut diatas
dapat dilihat dalam Q.S. Ad-Dhuha ayat 11.
“ Dan terhadap nikmat
Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.
Menurut istilah, hadis didefinisikan sebagai berikut:
- Segala ucapan, perbuatan, dan
keadaan nabi Muhammad saw.
- Segala berita yang bersumber
dari nabi Muhammad saw, baik berupa ucapan, perbuatan,takrir (ketepatan),
maupun deskripsi sifat-sifat beliau.
- Segala perkataan, perbuatan, dan
takrir nabi Muhammad saw. berkaitan dengan hukum.
Dari ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa hadis
adalah segala ucapan, perbuatan, dan takrir nabi Muhammad saw.
Fungsi Hadits
Hadits berasal dari Nabi Muhammad
Saw, sedangkan kehidupan beliau selalu dituntun dengan wahyu Allah Swt. Oleh
karena itu, ucapan, perbuatan dan takriri beliau tentu sangat penting bagi
kehidupan manusia. Diantara fungsi hadits adalah sebagai berikut:
1) Mengukuhkan hukum-hukum yang
telah disebutkan dalam Al-Qur’an.
2) Menafsirkan ayat-ayat
Al-Qur’an yang bersifat mujmal (global).
3) Membatasi keumuman
Al-Qur’an.
4) Menetapkan hukum yang belum
terdapat dalam Al-Qur’an.
Cara-cara Memfungsikan
Al-Qur’an dan Hadis dalam Kehidupan
- Menjadikan Al-Qur’an dan hadis
sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi.
- Menjadikan Al-Qur’an dan hadis
sebagai pedoman dalam kehidupan keluarga/rumah tangga.
- Menjadikan Al-Qur’an dan hadis
sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat
Menerapkan Al-Qur’an
dan Hadis sebagai Pedoman Hidup Umat Islam
Iman kepada al-Qur’an dan hadis
(Rosul) harus dapat dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan tersebut
tidak berarti tanpa adanya pembuktian dalam sikap hidup sehari-hari. Berikut
ini beberapa penerapan ajaran al-Qur’an dan Hadis dalam sehari-hari.
·
Dalam
kehidupan pribadi
Sebagai seorang pelajar muslim, penerapan ajaran al-Qur’an
dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
- Meningkatkan ketekunan dalam
mempelajari al-Qur’an dan hadis
- Mempelajari ayat-ayat kauniyah
(alam semesta) dalam rangka meningkatkan keimanan.
- Memanfaatkan waktu luang untuk
menguasai suatu bidang keterampilan untuk bekal menghadapi masa yang akan
dating.
- Memiliki semangat keilmuan yang
tinggi untuk kepentingan dunia dan akhirat
- Memperbanyak bergaul dengan
teman-teman yang soleh.
·
Dalam
kehidupan keluarga
- Sebagai seorang ayah, penerapan
ajaran al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
- Berusaha mengarahkan diri dan
seluruh anggota keluarga agar ucapan, perbuatan, dan sikap hidupnya sesuai
dengan al-Qur’an dan hadis
- Berusaha memperoleh nafkah yang
halal dalam mencukupi kebutuhan keluarga
- Memberi contoh perilaku yang
sesuai dengan al-Qur’an dan hadis
- Memupuk semangat dan ketekunan
kepada seluruh anggota keluarga dalam menjalankan syariat Islam
- Membiasakan bermusyawarah dalam
keluarga untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
- Sebagai seorang ibu, penerapkan
ajaran al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
- Senantiasa menaati perintah dan
saran-saran suami sebagai pemimpin rumah tangga selama dalam kebenaran.
- Member dukungan kepada suami
dalam upaya membentuk keluarga yang Islami.
- Mendidik anak-anak sesuai dengan
al-Qur’an dan hadis.
- Menjaga harta suami dengan
membelanjakannya sesuai keperluan dan tidakberlebih-lebihan.
- Menjaga kehormatan suami, baik
ketika suami ada di rumah maupun tidak.
- Sebagai seorang anak, penerapan
ajaran al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
- Menaati anjura dan bimbingan
dari kedua orang tuanya.
- Menjaga amanah yang diberikan
oleh kedua orang tuanya.
- Menjaga nama baik kedua orang
tuanya dengan membiasakan berperilaku terpuji.
- Mendoakan kedua orang tua agar
senantiasa diberi perlindungan oleh Allah Swt.
- Mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah
diperoleh.
·
Dalam
kehidupan bermasyarakat
Sebagai anggota masyarakat, dalam menerapkan ajaran al-Qur’an
dan hadis, antara lain:
- Ikut berperan aktif dalam
kehidupan masyarakat selama tidak melannggar norma-norma agama.
- Menjaga diri dari perilaku yang
dapat menimbulkan keresahan di masyarakat, baik dari ucapan, perbuatan,
maupun tingkah laku.
- Menjaga kerukunan dan gemar
menolong.
- Rela berkorban demi terwujudnya
kehidupan masyarakat yang harmonis.
- Gemar bermusyawarah dalam
menghadapi permasalahan dalam masyarakat.
·
Dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara
Sebagai warga negara yang baik, dalam menerapkan ajaran
al-Qur’an dan hadis antara lain:
- Ikut berperan aktif dalam
membangun bangsa dan Negara menuju bangsa yang aman dan sejahtera dalam
rido Allah Swt.
- Mengutamakan kepentingan bersama
diatas kepentingan pribadi ataupun golongan.
- Ikut berperan aktif dalam
menjaga persatuan dan keutuhan bangsa dan negara.
- Melaksanakan kewajiban
sebagai warga negara seperti membayar pajak.
- Mendukung program-program
pemerintahan selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis.
- Ikut berperan dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa dan Negara.
Mencintai Al-Qur’an dan
Hadis
Cinta berarti selalu mengingat dan
memikirkan dalam hati, kemudian terwujud dalam tindakan nyata. Orang yang
mencintai sesuatu, hatinya akan selalu mengingat dan memikirkannya. Dia akan
rela berkorban untuk sesuatu yang dicintainya. Al-Qur’an dan hadits adalah dua
sumber utama dalam hukum Islam. Seorang umat Islam harus mencintai keduanya
karena dengan demikian dia akan selamat, baik didunia maupun diakherat. Orang
yang mencintai Al-Qur’an dan hadits, dia akan selalu mengutamakan keduanya
diatas yang lain. Kecintaan terhadap Al-Qur’an dan hadis akan membuatnya selalu
ingin mengetahui lebih dalam ajaran yang terdapat didalamnya.
Perintah Mencintai
Al-Qur’an dan Hadis
Sebagai seorang muslim mencintai
Al-Qur’an adalah suatu kewajiban. Perintah mencintai Al-Qur’an dan hadits
banyak kita jumpai, baik didalam Al-Qur’an dan hadits. Berikut ini
beberapa dalil yang memerintahkan kita untuk mencintai Al-Qur’an dan hadits.
Katakanlah (Muhammad), “jika kamu
mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni
dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Ali-‘Imran/3: 31)
Ayat tersebut menyebutkan bahwa orang yang mencintai Allah,
haruslah mengikuti Nabi Muhammad saw. Orang yang mencintai Allah, berarti dia
mencintai Al-Qur’an sebagai kalam-Nya. Dia pun harus mengikuti ajaran Nabi
Muhammad saw. sebagai penerima wahyu Al-Qur’an. Mengikuti Nabi Muhammad saw.
berarti menerima dan mencintai hadits sebagai ajaran-ajaran beliau.
Rasulullah saw. pernah berpesan kepada umatnya agar
senantiasa berpegang pada Al-Qur’an dan hadits. Dengan perpeganng pada
keduanya, umat Islam tidak akan tersesat, baik didunia maupun diakherat.
Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat
selama kamu berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunah
Nabi-Nya (hadits). (HR.
Malik dari Umar bin Khattab No. 1395)
Bentuk-bentuk Mencintai Al-Qur’an dan Hadis
Mencintai Al-Qur’an dan hadits dapat diwujudkan dalm beberapa
bentuk, antara lain:
- berusaha memilki kitab
Al-Qur’an dan hadits meskipun harus menyisihkan uang saku,
- memilki kemuauan untuk dapat
membaca Al-Qur’n dan hadits secara benar meskipun harus mengeluarkan
biaya,
- memilki kemauan yang
sungguh-sungguh untuk dapat memahami isi Al-Qur’an dan hadits secara
benar,
- rajin mendatangi
majelis-majelis ilmu yang mempelajari Al-Qur’an dan hadits,
- tidak suka jika ada pihak lain
yang merendahkan atau menghina Al-Qur’an dan hadits,
- berusaha menjaga kesucian
Al-Qur’an dan hadits tanpa memandang remeh, dan
- memiliki kepedulian apabila
melihat lembaran yag bertuliskan Al-Qur’an atau hadits berceceran dengan
mengumpulkan atau membakarnya.
Bentuk mencintai Al
Qur’an dan hadits yang paling utama adalah mencintai ajaran-ajaran dalam Al
Qur’an dan hadits, dengan mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Bentuk lain dalam mencintai Al Qur’an dan hadits sebagai berikut. Pertama,
kita harus mempelajari Al Qur’an dan hadits, baik bacaan maupun isi
kandungannya secara bertahap. Sekarang ini banyak sekali lembaga-lembaga
pendidikan untuk mempelajari Al Qur’an dan hadits, baik formal maupun nonformal
dari tingkat dasar sampai tingkat yang tinggi. Dari pendidikan formal seperti
MI, MTs, MA dan seterusnya, sedangkan yang nonformal seperti TPQ, Madrasah
diniyah, pondok pesantren dan sebagainya, itu semua bertujuan supaya generasi
Islam tetap dapat mempelajari Al Qur’an dan hadits dengan harapan mereka kelak
menjadi generasi yang mencintai Al Qur’an dan hadits serta mampu mengajarkannya
kepada generasai selanjutnya.
Kedua,
setelah kita mempelajarinya dengan baik, tugas kita selanjutnya adalah
menjaganya dengan menghafalkannya jangan sampai lupa atau bahkan
meninggalkannya sama sekali. Hendaklah Al Qur’an menjadi bacaan wajib bagi kita
sehari-hari, karena sebaik-baik bacaan adalah bacaan Al Qur’an. Karena orang
yang mencintai sesuatu maka dia akan dengan senang hati selalu menyebut
menyebut (membacanya) setiap saat, sebagaimana kita mencintai Allah subhanahu
wata’ala, maka kita akan selalu menyebut nama-Nya dalam Dzikir kita.
Ketiga adalah
mengamalkannya sebagai tahap paling inti atas apa yang telah dipelajarinya dari
Al Qur’an dan hadits. Sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh para sahabat
Nabi Muhammad sholallaahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf yang menjadikan
Al Qur’an dan hadits sebagai sandaran dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik
ibadah maupun muamalah. Mereka telah benar-benar meneladani Rasulullah
sholallaahu ‘alaihi wasallam sebagai idola hidup mereka, karena akhlak
Rasulullah Sholallaahu ‘alaihi wasallam adalah Al Qur’an yang menghasilkan
sabda-sabda sebagai penjabaran dan penjelas dari Al Qur’an yaitu hadits.
Manfaat Mencintai Al-Qur’an dan
Hadits
Al-Qur’an dan Hadits merupakan dua kitab pokok dalam memhami
ajaran Islam. Mencintai keduanya tentu banyak membawa manfaat. Diantara manfaat
mencintai Al-Qur’an dan hadits adalah sebagai berikut:
- Memperoleh nasihat, obat hati,
petunjuk, dan rahmat dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman
Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhnmu, penyembuh
bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang
beriman. (QS. Yunus/10: 57)
- Terhindar dari kesesatan dan
kecelakan dunia dan akherat.
Allah Swt. berfirman
Jika datng kepadamu petunjuk dari-Ku maka (ketahuilah) barang
siapa mengikuti
petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Taha/20: 123)
- Memperoleh kecintaan dan ampunan
dari Allah Swt.
Allah Swt. berfirman
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Alah, ikutilah
aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosam.” Allah Maha
Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran/3: 31)
Perilaku Orang yang Mencintai
Al-Qur’an dan Hadits
Setelah memperhatikan bentuk-bentuk mencintai Al-ur’an dan
hadits, perilaku keduanya dapat diwujudkan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a.
berupaya
mewujudkan berdirinya taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di lingkungan
masing-masing,
b.
ikut
serta secar aktif dalam upaya melancarkan jalnnya TPQ, baik denngan pikiran,
tenaga, mapun materi,
c.
menyedikan
waktu khusus untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits untuk kemudian di ajrakan
kepada orang lain,
d.
mengajak
orang-orang yang belum mau belajar Al-Qur’an dan hadits, dan
e.
selalu
menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai dasar dalam segala tindakan dan cara
berpikirnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya
sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR.
Ahmad)
Pada jaman akhir ini Perselisihan karena perbedaan pemahaman
yang terjadi boleh jadi dikarenakan segelintir kaum muslim terhasut atau
korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis
Yahudi sehingga cara memahami Al Qur'an dan Hadits mengikuti cara
pemahaman yang serampanmenurut pikiran dan nafsunya mereka sendiri.
Memahami
Al Qur'an dan Hadits dengan makna dzahir atau yang kami namakan pemahaman
dengan metodologi “terjemahan saja” berdasarkan arti bahasa (lughot) dan
istilah (terminologi). Hal ini umum terjadi pada mereka yang memahami agama
berlandaskan muthola’ah , menelaah kitab dengan akal pikirannya sendiri.
Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia
menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)
Dalam memaknai Al-Qur'an tersebut ada 17 Ilmu yang harus
dikuasai agar bisa memahaminya dengan benar tidak serampangan, adalah sebagai
berikut ;
- Ilmu Mawathin al-Nuzul.
Ilmu yang menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awal dan
akhirnya. Kitab yang membahas ilmu ini banyak. (Diantaranya ialah al-Itqan,
tulisan al-Suyuthi)
- Ilmu Tawarikh al-Nuzul.
Ilmu yang menerangkan dan menjelaskan masa turun ayat dan tertib
turunnya, satu demi satu, dari awal turun hingga akhirnya, dan tertib turun surat dengan sempurna.
3.
Ilmu
Asbab al-Nuzul.
Ilmu yang menerangkan sebab-sebab turun ayat. (Diantara kitab yang
menjelaskan hal ini ialah Lubab al-Nazul karangan al-Suyuthi)
- Ilmu Qira'at.
Ilmu yang menerangkan rupa-rupa Qira'at (bacaan al-Qur'an yang diterima
dari Rasulullah SAW). (Seindah-indah kitab untuk mempelajari ilmu ini ialah
kitab al-Nasyr Fi Qira'at al-Asyr, tulisan Ibnu Jazary)
- Ilmu Tajwid.
Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur'an, tempat mulai dan
pemberhentiannya, dan lain-lain yang berhubungan dengan itu.
- Ilmu Gharib al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat
dalam kitab-kitab biasa, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu
ini menerangkan makna kata-kata yang halus, tinggi, dan pelik.
- Ilmu I'rabil Qur'an.
Ilmu yang menerangkan baris al-Qur'an dan kedudukan lafal dalam ta'bir
(susunan kalimat). Di antara kitab yang memenuhi kebutuhan dalam membahas ilmu
ini ialah Imla al-Rahman, karangan Abdul Baqa al-Ukbary.
- Ilmu Wujuh wa al-Nazhair.
Ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur'an yang banyak arti; menerangkan
makna yang dimaksud pada satu-satu tempat. (Ilmu ini dapat mempelajari dalam
kitab Mu'tarak alAqran, karangan al-Suyuthi)
- Ilmu Ma'rifat al-Muhkam wa
al-Mutasyabih.
Ilmu yang menyatakan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang
dianggap mutasyabih. (Salah satu kitab mengenai illmu ini ialah al-Manzhumah
al-Sakhawiyah, susunan Imam al-Sakhawy)
- Ilmu Al-Nasikh wa Al-Mansukh.
Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian
mufassir. (Untuk mempelajari ilmu ini dapat dibaca kitab al-Nasikh wa
al-Mansukh, susunan Abu Ja'far al-Nahhas dan al-Itqan karangan al-Suyuthi)
- Ilmu Bada'i Al-Qur'an.
Ilmu yang membahas keindahan-keindahan Al-Qur'an. Ilmu ini menerangkan
kesusasteraan Al-Qur'an, kepelikan-kepelikan dan ketinggian-ketinggian
balaghah-nya. (Untuk ini dapat juga dibaca kitab al-Itqan karangan al-Suyuthi)
- Ilmu I'dazAal-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan kekuatan susunan tutur al- Qur'an,
sehingga ia dipandang sebagai mukjizat, dapat melemahkan segala ahli bahasa
Arab. (Kitab yang memenuhi keperluan ini ialah I’jaz al-Qur'an, karangan al-Baqillany)
- Ilmu Tanasub Ayat al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelum
dan sesudahnya. (Kitab yang memaparkan ilmu ini ialah, Nazhmu al-Durar karangan
Ibrahim al-Riqa'iy)
- Ilmu Aqsam al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah
lainnya yang terdapat di dalam al-Qur'an.
- Ilmu Amtsal al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan segala perumpamaan yang ada dalam al-Qur'an.(Kitab
yang dapat dipelajari untuk ilmu ini antara lain Amtsal al-Qur'an karangan
al-Mawardi)
- Ilmu Jidal Al-Qur'an.
Ilmu untuk mengetahui rupa-rupa debat yang dihadapkan Al- Qur'an kepada
kaum musyrikin dan lain-lain. Ayat-ayat yang mengandung masalah ini.
(Dikumpulkan oleh Najamuddin al- Thusy)
- Ilmu Adab al-Tilawah al-Qur'an.
Ilmu yang mempelajari segala bentuk aturan yang harus dipakai dan
dilaksanakan di dalam membaca al-Qur'an. Segala kesusilaan, kesopanan dan
ketentuan yang harus dijaga ketika membaca al-Qur'an. Salah satu kitab yang
amat baik.