Pages

Aangedryf deur Blogger.

Vrydag 18 November 2016

Pelajaran yang baik, Masalah yang berkaitan, Solusi mengatasi masalah didalam Film Di Timur Matahari



Di Timur Matahari

Image result for di timur matahari
            Di Timur Matahari adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tanggal 14 Juni 2012. Film ini disutradarai oleh Ari Sihasale. Yang bertujuan untuk mengajak masyarakat agar mengenal Papua lebih dekat melalui film ini, Mereka anak-anak yang haus akan pendidikan dan berusaha untuk menggapai cita-cita, namun harus terbentur dalam kondisi dan situasi yang sangat sulit. Keadaan pula yang memaksa mereka untuk menerima kenyataan bahwa sang guru tak kunjung datang. Tapi sekaligus sentilan untuk kita, terutama pemerintah. tidak harus sepenuhnya menyalahkan rakyat Papua. Ketika beberapa darinya meminta merdeka. Memisahkan diri dari Indonesia. hidup bergelimangan kekayaan alam, tapi selalu saja tertinggal.

1.      Pelajaran yang baik didalam Film Di Timur Matahari
·         Mempunyai semangat yang luar biasa, untuk hidup dan mengecap pendidikan. berusaha untuk menggapai cita-cita, namun harus terbentur dalam kondisi dan situasi yang sangat sulit.
·         Keceriaan selalu tergambar dalam keseharian mereka yang membuktikan bahwa belajar tidak selalu harus di dalam kelas, dan siapa pun bisa menjadi guru bagi anak-anak ini. Anak-anak papua mengejar mimpi tanpa ada raut lelah di wajah mereka
·         Ketabahan seorang Istri dan seorang Ibu. Bahwa Kasih itu tidak boleh membalas, laki2 tidak boleh pukul perempuan, perempuan jg tidak boleh pukul laki2, Tuhan menciptakan manusia itu untuk saling mengasihi.
·         Anak-anak tetap berkawan dan berusaha mendamaikan kedua kampung ini

2.      Masalah yang berkaitan dengan kebangsaan Indonesia
Tuntutan Masyarakat Papua tidak terlalu banyak, mereka hanya ingin hidup layak, dan pula pendidikan yang memadai. Karena pemerintah kurang memperhatikan masalah dipedalaman, anak-anak yang haus akan pendidikan dan berusaha untuk menggapai cita-cita, namun harus terbentur dalam kondisi dan situasi yang sangat sulit. Keadaan pula yang memaksa mereka untuk menerima kenyataan bahwa sang guru tak kunjung datang. Dan harga kebutuhan pokok yang selangit.
Alex, menentang pemikiran Michael. Hanyalah perang  jalan satu-satunya bagi Alex untuk membalas kematian. Bahwa kematian yang diakibatkan oleh pembunuhan Sudah menjadi adat masyarakat setempat, pembalasan harus setimpal. Mata dibayar mata. Gigi diganti gigi. Kalau tidak, pihak pembunuh harus membayar denda. Tidaktanggung-tanggung, denda adat yang diminta adalah dua ratus ekor babi. Ditambah uang tiga milyar rupiah. Kalau denda adat tak mampu dipenuhi, maka perangantar suku adalah jawaban terakhir.

3.      Solusi mengatasi masalah yang ada di Papua
Cara menghindari masalah tersebut Masyarakat harus mengubah adat yang tidak baik dengan pemikiran yang lebih maju dan luhur. menentang semua adat primitif yang tak layak dilestarikan. Perang suku, salah satunya. menentang adat lain. Potong jari, yang kerap dilakukan oleh masyarakat pedalaman Papua. Setelah suami meninggal hendaklah potong jari dengan kapak batu, sampai putus. Adat ini harus disirnakan. Semua tergantung dari masing-masing pribadi, dan pula diganti melakukan kegiatan yang positif, tidak mengunakan perang Atau belajar damai dan mendamaikan.
Karena dengan pemikiran yang lebih maju dan perdamaian akan mengatasi semua masalah adat dalam suatu daerah setempat.  Orang dewasa bisa saja berperang, namun tidak bagi Mazmur, dan para sahabatnya. Walau kampung mereka dan para orang tua bermusuhan, karena ayah Mazmur terbunuh oleh ayah Agnes, tapi mereka tetap berkawan dan berusah mendamaikan kedua kampung ini.
                        Maka kita sebagai generasi mudah harus bisa memilih mana adat yang baik buat kita, seperti dalam islam Urf (Kebiasaan yang baik) atau bermakna adat. Dan pula para ulama bersepakat bahwa adat yang sah yaitu yang tidak bertentangan dengan syariat. Dan pula hubungan dengan Istihsan (Mencari yang baik). Seperti adat yang ada pada pada zaman Rasulullah SAW. Peristiwa ditinggalnnya hukum potong tanggan bagi pencuri pada zama khalifah umar bin khatab, padahal seharusnya pencuri dipotong tanggannya itu merupahan hukum asal.  

Donderdag 10 November 2016

METODE MEMAHAMI AL-QUR’AN DAN AL-HADIS



                 Al-Qur’an dan hadits bagi umat Islam merupakan sumber ajaran yang palingutama.Penyikapan terhadap kedua sumber utama tersebut tentu saja tidakberhenti pada tingkat mampu untuk membaca, menulis, atau menghafalnyasaja.Pada kondisi selanjutnya seorang Muslim sebaiknya mampu untuk mengartikan Al-Qur’an dan hadits.Kemampuan dalam mengartikan Al-Qur’an dan hadits menjadigerbang awal untuk memahami kandungan Al-Qur’an dan hadits.Terampil dalammengartikan Al-Qur’an dan Hadits, menjadi salah satu bagian dari penguasaan yangharus dimiliki peserta didik. Pembelajaran mengartikan Al-Qur’an dan Hadits yangdimulai sejak usia beliadiharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik. Untukmenjembatani itu, diperlukan upaya yang serius dari guru agar anak didiknya mampudan terampil dalam mengartikan Al-Qur’an dan Hadits dengan lancar dan benar.

Metode Memahami Alquran

 “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapat pertentangan yg banyak didalamnya.” Al-Qur’an merupakan.kitab suci yg berisi petunjuk utk kehidupan umat manusia di dunia ini. Dengan petunjuk AI-Qur’an kehidupan manusia akan berjalan dgn baik manakala merekamemiliki problema maka problema itu dapat terpecahkan sehingga ibarat penyakit akan ditemukan obatnya dgn AI-Qur’an itu. Sebaliknya tanpa petunjuk AI-Qur’an kehidupan manusia menjadi semraut yg benar dibilang salah yg salah dianggap benar yg halal dianggap haram dan yg haram dihalalkan begitulah seterusnya. Sementara problematika hidup selalu bermunculan satu masalah belum terselesaikan lalu muncul lagi masalah baru yg lbh rumit dan sulit utk memecahkanya. Oleh krn itu menjadi amat penting bagi kita sebagai umat Islam utk memahami AI-Qur’an dgn sebaik-baiknya sehingga AI-Qur’an bisa kita pahami dgn benar lalu kita gunakan sebagai pedoman hidup di dunia ini dgn sebenar-benarnya. Adapun sebagai da’I lbh penting lagi agar kita bias menda’wahkan Al-Qur’an dgn sebaik-baiknya. Manakala kita dan kaum Muslimin telah menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam hidup ini maka paling kurang ada tiga keuntungan yg akan kita peroleh. Pertama Kehidupan menjadi terbimbing dalam berbagai aspek.Kedua mampu mengatasi persoalan-persoalan hidup. Ketiga kehidupan menjadi bersih dari noda dan dosa. Untuk bisa memahami AI-Qur’an dgn baik ada beberapa pendekatan yg bisa kita lakukan.
Memahami AI-Qur’an Dengan AI-Qur’an. AI-Qur’an merupakan wahyu Allah yg antara satu dgn lainya saling membenarkan dan menafsirkan karenanya tidak akan kita temukan kontradiksi antara satu ayat dgn ayatlainya Allah berfirman yg artinya “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an?. Kalau sekiranya AI-Qur’an itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mandapat pertentangan yg banyak didalamnya.” Ada banyak contoh tentang memahami ayat dgn ayat AI-Qur’an juga misalnya Ibnu Katsir menghubungkan ayat 7 dari surat Al-Fatihah dgn surat An-Nisa 69 yg artinya “Dan barang siapa yg mentaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dgn orang-orang yg dianugerahi ni’mat oleh Allah yaitu; Nabi-nabi para shidiqin orang-orang yg mati syahid dan orang-orang yg saleh. Dan mereka itulah teman yg sebik-baiknya.”
Memahami AI-Qur’an Dengan Hadits Disamping dgn ayat atau surat lain AI-Qur’an juga bisa dipahami dari hadits melalui penjelasan dari Rasulullah SAW hal ini krn Rasulullah memang bertugas utk menjelaskan Al-Qur’an yg diturunkan kepadanya. krn itu hadits-haditsnya bisa kita jadikan rujukan utk memahami suatu ayat. Diantara contoh tafsir dari hadits Rasulullah SAW adl sebagaimana yg diriwayatkan oleh lbnu Mas’ud yg artinya Ketika turun ayat ini “Orang-orang yg beriman dan tidak mencampuradukkan imanya dgn kezaliman..” hal ini sangat meresahkan para sahabat. Mereka bertanya; “Ya Rasulullah siapakah diantara kita yg tidak berbuat zalim tertiadap dirinya?”. Beliau menjawab “Kezaliman disini bukan seperti yg kamu pahami. Tidakkah kamu mendengar apa yg dikatakan hamba yg shaleh “sesungguhnya mempersekutukan Allah adl kezaliman yg besar.”. Kezaliman disini adl syirik. Di dalam hadits terdapat juga rincian tentang apa yg diperintah dan apa yg dilarang serta ketentuan hukum yg difardhukan oleh Allah SWT. Maka hadits-hadits semacam ini berarti tatsir atau penjelasan atau suatu ayat didalam Al-Qur’an misalnya didalam AI-Qur’an kaum Muslimin diperintah utk menunaikan shalat namun AI-Qur’an tidak menjelaskan teknis pelaksanaan shalat maka shalat Nabi yg tergambar didalam hadits merupakan penafsiran ayat tentang shalat dan begitulah seterusnya sehingga Al-Qur’an memang harus kita pahami dgn hadits-hadits baik sisi kandungan maupun teknis pelaksanaan dari suatu ayat.
Memahami AI-Qur’an Dengan Asbabun Nuzul. Tidak kurang dari sepertiga Al-Qur’an turun dgn asbabun nuzul . Ini berarti utk memahami maksud tujuan dan kandungan AI-Qur’an harus kita lakukan melalui asbabun nuzul. Menurut Manna Khalil Al Qattan dalam bukunya mabahits fi Ulumil Qur’an mendefinisikan asbabun nuzul “Sesuatu hal yg karenanya AI-Qur’an diturunkan utk menerangkan status nya pada masa hal itu terjadi baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.” Dengan memahami asbabun nuzul kita menjadi tahu latar belakang diturunkanya suatu ayat atau surat dan dgn itu pula kita menjadi tahu makna dan kandungan suatu ayat dan surat serta terhindar dari pemahaman yg keliru dari kandungan yg sesungguhnya dari satu ayat atau surat. Bahkan dgn asbabun nuzul pula kita bisa mencegah terjadinya penyalahgunaan makna suatu ayat utk kepentingan-kepentingan yg justeru bertentangan dgn misi AI-Qur’an.
Memahami AI-Qur’an Dengan Qaul Sahabat. Para sahabat merupakan generasi yg merasakan suasana turunya AI-Qur’an apalagi mereka memiliki kesiapan rohani yg kuat utk bisa menerima pesan-pesan yg terkandung di dalam AI-Qur’an. Karena itu wajar saja apabila utk memahami AI-Qur’an kita juga harus merujuknya kepada ucapan pemahaman atau penafsiran para sahabat terhadap AI-Qur’an. Disamping sahabat yg menjadi khalifahada banyak sahabat yg sering kali menafsirkan AI-Qur’an misalnya saja lbnu Mas’ud Ubai bin Ka’ab Zaid bin Tsabit Abdullah bin Zubajr Aisyah r. a. dll. Diantara contoh tentang ayat yg ditafsirkan sahabat adl firman Allah yg artinya “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka itu bersyukur.”. lbnu Abbas menafsirkan ayat tersebut seperti yg dikutip oleh lbnu Katsir bahwa yg dimaksud dgn syaitan menggoda dari depan adl agar manusia tidak percaya akan kehidupan akhirat dari belakang agar manusia terlalu cinta pada dunia dari kanan agar manusia mengabaikan syari’at dan dari kiri agar manusia lbh cenderung pada dosa dan kemaksiatan.
Memahami AI-Qur’an Dengan Makna Katanya. AI-Qur’an merupakan kitab suci yg berasal dari bahasa Arab. Oleh krn itu utk memahami ayat-ayat yg terkandung didalam AI-Qur’an kita perlu menggunakan pendekatan dari makna kosa kata yg terdapat dari AI-Qur’an itu hal ini krn meskipun maksud AI-Qur’an tidak persis sama dgn arti harfiyah pada suatu istilah tapi paling tidak berangkat dari makna kosa kata kita akan memahami kemana arah atau makna dari suatu ayat. Sebagai contoh didalam AI-Qur’an terdapat kata “amar ma’ruf dan nahi munkar” yg diterjemahkan dgn memerintahkan yg baik dan mencegah yg buruk. Secara harfiyah ma’ruf itu artinya dikenal yakni sesuatu yg sudah dikenal oleh manusia. Kebaikan pada dasarnya sudah diketahui oleh manusia tapi meskipun manusia sudah tahu tentang kebaikan belum tentu manusia melakukan kebaikan itu. Adapun munkar artinya sesuatu yg diingkari keburukan kemaksiatan dan kebathilan disebut munkar krn pada dasarnya manusia tidak suka kemunkaran itu namun ternyata dgn hwa nfsu (**) manusia malah melakukan kemunkaran itu makanya mereka harus dicegah dari melakukannya. Dengan demikian pendekatan makna kata utk memahami kandungan suatu ayat menjadi sangat penting kita lakukan utk bisa memahami ayat itu sendiri.
Memahami AI-Qur’an Dengan Tafsir Para Ulama. Kapasitas keilmuan kita yg belum memadai utk memahami AI-Qur’an secara langsung tidak membuat kita harus berkecil hati utk bisa memahami Al-Qur’an dgn baik kita mungkin saja bias memahami Al-Qur’an dgn baik dgn membaca dan mengkaji penafsiran dan para ulama ahli tafsir yg diakui oleh para ulama dan umat Islam pada umumnya. Kita amat bersyukur krn para ulama itu sangat membantu kita dalam memahami AI-Qur’an dgn kitab yg mereka tulis. Baik ulama dari dalam negeri kita sendiri seperti Prof. Dr. Hamka dgn Tafsir Al Azhar Prof. Dr. Quraish Shihab dgn Tafsir Al Misbah Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddiqi dgn Tafsir An Nur dll. Sedangkan ulama dari luar antara lain Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid bin Kasir Abu Ja’far At Tabari dgn Tafsir At Tabari Ismail bin Amr Al Qurasyi bin Katsir dgn Tafsir lbnu Katsir hingga Sayyid Qutb dgn Tafsir Fi Zilalil Qur’an dll. Demikianlah secara umum beberapa pendekatan yg harus ditempuh dalam upaya memahami Al-Qur’an dgn sebaik-baiknya. Ini berarti menjadi keharusan kita bersama utk terus melakukan tadabbur atau pengkajian terhadap nilai-nilai yg terkandung dalam AI-Qur’an.

Cara Memahami Hadits Nabi Yang Baik Dan Benar

Sangat penting mengetahui cara memahami hadits nabi yang baik dan benar. Karena banyak orang-orang yang membaca Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Nasa’i, imam Tirmidzi dan seterusnya. yang itu semua meruapakan kitab yang haq, kitabnya para ulama, kitabnya salafus sholeh, tapi hasilnya apa? mereka mengatakan “siapa pun yang tidak sependapat dengan kami kafir, siapa pun yang tidak berbait kafir, najis, haram bagi kita shalat di masjid-masjid mereka dan jika mereka shalat di masjid-masjid kita harus segera dibersihkan” . padahal bacaan meraka itu Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Nasa’i,  imam Tirmidzi dan setersunya.
Hal ini bisa terjadi karena mereka Memaknai  qola Allah Dan qola Rosul  yang terdapat pada Al-Quran dan Sunnah hanya  sebatas itu saja (sebatas artinya saja)  padahal seharusnya adalah memahami qola Allah Dan qola Rosul  yang terdapat pada Al-Quran dan Sunnah harus sesuai dengan pemahan para Sahabat.  inilah yang tidak mereka lakukan, inilah kesalahan terbearnya, jika memaknai firaman Allah dan Sabda Rosul saja sudah salah Insya Allah kesananya Pasti salah.  kalo saja mereka mau memahami Al-Quran Dan Sunnah  sesuai dengan pemahaman para sahabat pasti jika terjadi sebuah permasalahan atau perselisihan mudah menyelesaikannya tinggal kembali lagi kepada Al-quran dan Sunnah, mudah bukan dan dijamin tidak akan ada perselisihan, syaratnya cuma satu mereka harus mau rujuk kepada Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman para sahabat
Contoh jika ada yang berselisi tentang masalah Aqiqah apakah orang dewasa yang belum di Aqiqah harus di Aqiqah mereka berselisih tentang masalah tersebut karena ada haditsnya dari nabi,karena nabi melakukannya. lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? jika kita bukan ahlinya maka serahkan saja pada yang lebih ahli kalo kita bukan dokter jangan ngaku-ngaku dokter dan seenaknya aja ngasih obat ke orang yang sakit, begitu pula dalam memahami hadits kalo ada masalah kembalikanlah kepada yang lebih ahli yaitu para sahabat nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam. Apakah Abu Bakar, Umar, zubair mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? kalo iya maka itulah Al-Haq kalo tidak maka itu khusus untuk nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam. Berapa banyak perbuatan nabi yang tidak boleh kita lakukan. inilah alasan mengapa kita harus memahami hadits nabi sesuai dengan pemahaman para sahabat Radhiallah Anhum.
mereka yang anti bid’ah, anti Khurafat, Anti Syirik. mereka banyak yang  tidak paham mengapa harus mengikuti pemahaman para sahabat padahalkan nabi bersabda

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).
dalam hadits di atas nabi  mengatakan cuma dua perkara bukan tiga atau empat, kenapa bawa-bawa pemahaman para sahabat. jawabanya adalah karena ada banyak perbuatan nabi yang kita tidak boleh mengikutinya. apa buktinya?  buktinya adalah seperti puasa yang disambung. yaitu beliau berpuasa ketika magrib tiba belau tidak makan dan minum apa-apa nyambung terus sampe waktu sahur, bolehkah kita melakukannya? semua pasti tau jawabanya adalah tidak boleh, mengapa? karena tidak ada satu pun sahabat yang melakukannya. contoh lainnya adalah nikah dengan istri lebih dari emapat, kemudian meletakan pelepah kurma di atas kubur dengan harapan mayat yang berada dibawa kubur yang disiksa diperingan siksanya ini semua adalah perbuatan nabi dan tidak ditiru oleh para sahabat. kalo itu sunnah mustahil para sahabat tidak melakukannya karena para sahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat melakukan sunnah. maka apapun yang dilakukan oleh para sahabat adalah Al-Haq dan apapun yang tidak dilakukan oleh para sahabat bukanlah suatu kebaikan.
ingatlah kaidah penting berikut ini :
لو كان خيرا لسبقون اليه
“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”
Seandainya perbuatan itu baik, maka Rasulullah, para Sahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in pasti mereka lebih dahulu mengamalkannya daripada kitaSeandainya perbuatan itu baik, maka Rasulullah, para Sahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in pasti mereka lebih dahulu mengamalkannya daripada kita


Memahami Al- Qur’an dan Al-Hadis sebagai Pedoman Hidup     
a.      Pengertian Al-Qur’an
Kata Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti bacaan. Hasbi Ash-shiddieqy mengatakan al-Qur’an menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca. Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt. Yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Pengertian ini berdasarkan Q.S as-syu’ara/26: 192-193.
Artinya: Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (jibril). (Q.S. asy-Syu’ara/26:192-193).
Artinya: Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) diatas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) yang Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Q.S. Yasin/36: 2-5).
Fungsi Al-Qur’an
      Menurut Abuddin Nata Al-Qur’an antara lain berfungsi sebagai dalil atau petunjuk atas kerasaulan Muhammad saw, pedoman hidup bagi umat manusia, menjadi ibadah bagi yang membacanya, serta pedoman dan sumber petunjuk dalam kehidupan.
Secara umum, fungsi Al-Qur’an bagi kehidupan manusia, antara lain:
  1. Sebagai petunjuk bagi manusia agar hidupnya berada dijalan Allah Swt.
  2. Merupakan nikmat bagi orang-orang yang beriman.
  3. Sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman karena Allah Swt menjanjikan balasan keimanan dengan nikmat di surga.
  4. Sebagai pendidikan moral yang sempurna karena di dalamnya terdapat kisah-kisah umat terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran dalam memilih jalan kehidupan.

b.      Pengertian Hadis
Kata hadis berasal dari bahasa Arab yakni al-hadis, jamaknya al-ahaadits, al-hidsan dan al-hudsan. Dari segi bahasa, kata ini memiliki banyak arti, diantaranya: (1) al-jadid (yang baru), lawan dari al-qadim (yang lama), (2) al-khabar (kabar atau berita).
Hadis dengan pengertian khabar seperti tersebut diatas dapat dilihat dalam Q.S. Ad-Dhuha ayat 11.
 “ Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.
Menurut istilah, hadis didefinisikan sebagai berikut:
  1. Segala ucapan, perbuatan, dan keadaan nabi Muhammad saw.
  2. Segala berita yang bersumber dari nabi Muhammad saw, baik berupa ucapan, perbuatan,takrir (ketepatan), maupun deskripsi sifat-sifat beliau.
  3. Segala perkataan, perbuatan, dan takrir nabi Muhammad saw. berkaitan dengan hukum.
Dari ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa hadis adalah segala ucapan, perbuatan, dan takrir nabi Muhammad saw.
Fungsi Hadits
Hadits berasal dari Nabi Muhammad Saw, sedangkan kehidupan beliau selalu dituntun dengan wahyu Allah Swt. Oleh karena itu, ucapan, perbuatan dan takriri beliau tentu sangat penting bagi kehidupan manusia. Diantara fungsi hadits adalah sebagai berikut:
1)      Mengukuhkan hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an.
2)      Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat mujmal (global).
3)      Membatasi keumuman Al-Qur’an.
4)      Menetapkan hukum yang belum terdapat dalam Al-Qur’an.

Cara-cara Memfungsikan Al-Qur’an dan Hadis dalam Kehidupan
  1. Menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi.
  2. Menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman dalam kehidupan keluarga/rumah tangga.
  3. Menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat

Menerapkan Al-Qur’an dan Hadis sebagai Pedoman Hidup Umat Islam
Iman kepada al-Qur’an dan hadis (Rosul) harus dapat dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan tersebut tidak berarti tanpa adanya pembuktian dalam sikap hidup sehari-hari. Berikut ini beberapa penerapan ajaran al-Qur’an dan Hadis dalam sehari-hari.
·         Dalam kehidupan pribadi
Sebagai seorang pelajar muslim, penerapan ajaran al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
  1. Meningkatkan ketekunan dalam mempelajari al-Qur’an dan hadis
  2. Mempelajari ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dalam rangka meningkatkan keimanan.
  3. Memanfaatkan waktu luang untuk menguasai suatu bidang keterampilan untuk bekal menghadapi masa yang akan dating.
  4. Memiliki semangat keilmuan yang tinggi untuk kepentingan dunia dan akhirat
  5. Memperbanyak bergaul dengan teman-teman yang soleh.
·         Dalam kehidupan keluarga
  1. Sebagai seorang ayah, penerapan ajaran al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
  1. Berusaha mengarahkan diri dan seluruh anggota keluarga agar ucapan, perbuatan, dan sikap hidupnya sesuai dengan al-Qur’an dan hadis
  2. Berusaha memperoleh nafkah yang halal dalam mencukupi kebutuhan keluarga
  3. Memberi contoh perilaku yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadis
  4. Memupuk semangat dan ketekunan kepada seluruh anggota keluarga dalam menjalankan syariat Islam
  5. Membiasakan bermusyawarah dalam keluarga untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
  1. Sebagai seorang ibu, penerapkan ajaran al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
  1. Senantiasa menaati perintah dan saran-saran suami sebagai pemimpin rumah tangga selama dalam kebenaran.
  2. Member dukungan kepada suami dalam upaya membentuk keluarga yang Islami.
  3. Mendidik anak-anak sesuai dengan al-Qur’an dan hadis.
  4. Menjaga harta suami dengan membelanjakannya sesuai keperluan dan tidakberlebih-lebihan.
  5. Menjaga kehormatan suami, baik ketika suami ada di rumah maupun tidak.
  1. Sebagai seorang anak, penerapan ajaran al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
  1. Menaati anjura dan bimbingan dari kedua orang tuanya.
  2. Menjaga amanah yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
  3. Menjaga nama baik kedua orang tuanya dengan membiasakan berperilaku terpuji.
  4. Mendoakan kedua orang tua agar senantiasa diberi perlindungan oleh Allah Swt.
  5. Mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh.
·         Dalam kehidupan bermasyarakat
Sebagai anggota masyarakat, dalam menerapkan ajaran al-Qur’an dan hadis, antara lain:
  1. Ikut berperan aktif dalam kehidupan masyarakat selama tidak melannggar norma-norma agama.
  2. Menjaga diri dari perilaku yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat, baik dari ucapan, perbuatan, maupun tingkah laku.
  3. Menjaga kerukunan dan gemar menolong.
  4. Rela berkorban demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang harmonis.
  5. Gemar bermusyawarah dalam menghadapi permasalahan dalam masyarakat.
·         Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Sebagai warga negara yang baik, dalam menerapkan ajaran al-Qur’an dan hadis antara lain:
  1. Ikut berperan aktif dalam membangun bangsa dan Negara menuju bangsa yang aman dan sejahtera dalam rido Allah Swt.
  2. Mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi ataupun golongan.
  3. Ikut berperan aktif dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa dan negara.
  4. Melaksanakan kewajiban  sebagai warga negara seperti membayar pajak.
  5. Mendukung program-program pemerintahan selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis.
  6. Ikut berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara.

Mencintai Al-Qur’an dan Hadis
Cinta berarti selalu mengingat dan memikirkan dalam hati, kemudian terwujud dalam tindakan nyata. Orang yang mencintai sesuatu, hatinya akan selalu mengingat dan memikirkannya. Dia akan rela berkorban untuk sesuatu yang dicintainya. Al-Qur’an dan hadits adalah dua sumber utama dalam hukum Islam. Seorang umat Islam harus mencintai keduanya karena dengan demikian dia akan selamat, baik didunia maupun diakherat. Orang yang mencintai Al-Qur’an dan hadits, dia akan selalu mengutamakan keduanya diatas yang lain. Kecintaan terhadap Al-Qur’an dan hadis akan membuatnya selalu ingin mengetahui lebih dalam ajaran yang terdapat didalamnya.
Perintah Mencintai Al-Qur’an dan Hadis
Sebagai seorang muslim mencintai Al-Qur’an adalah suatu kewajiban. Perintah mencintai Al-Qur’an dan hadits banyak kita jumpai, baik didalam Al-Qur’an dan hadits.  Berikut ini beberapa dalil yang memerintahkan kita untuk mencintai Al-Qur’an dan hadits.

Katakanlah (Muhammad), “jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Ali-‘Imran/3: 31)
Ayat tersebut menyebutkan bahwa orang yang mencintai Allah, haruslah mengikuti Nabi Muhammad saw. Orang yang mencintai Allah, berarti dia mencintai Al-Qur’an sebagai kalam-Nya. Dia pun harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. sebagai penerima wahyu Al-Qur’an. Mengikuti Nabi Muhammad saw. berarti menerima dan mencintai hadits sebagai ajaran-ajaran beliau.
Rasulullah saw. pernah berpesan kepada umatnya agar senantiasa berpegang pada Al-Qur’an dan hadits. Dengan perpeganng pada keduanya, umat Islam tidak akan tersesat, baik didunia maupun diakherat. Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunah Nabi-Nya (hadits). (HR. Malik dari Umar bin Khattab No. 1395)
Bentuk-bentuk Mencintai Al-Qur’an dan Hadis
Mencintai Al-Qur’an dan hadits dapat diwujudkan dalm beberapa bentuk, antara lain:
    1. berusaha memilki kitab Al-Qur’an dan hadits meskipun harus menyisihkan uang saku,
    2. memilki kemuauan untuk dapat membaca Al-Qur’n dan hadits secara benar meskipun harus mengeluarkan biaya,
    3. memilki kemauan yang sungguh-sungguh untuk dapat memahami isi Al-Qur’an dan hadits secara benar,
    4. rajin mendatangi majelis-majelis ilmu yang mempelajari Al-Qur’an dan hadits,
    5. tidak suka jika ada pihak lain yang merendahkan atau menghina Al-Qur’an dan hadits,
    6. berusaha menjaga kesucian Al-Qur’an dan hadits tanpa memandang remeh, dan
    7. memiliki kepedulian apabila melihat lembaran yag bertuliskan Al-Qur’an atau hadits berceceran dengan mengumpulkan atau membakarnya.
Bentuk mencintai Al Qur’an dan hadits yang paling utama adalah mencintai ajaran-ajaran dalam Al Qur’an dan hadits, dengan mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk lain dalam mencintai Al Qur’an dan hadits sebagai berikut. Pertama, kita harus mempelajari Al Qur’an dan hadits, baik bacaan maupun isi kandungannya secara bertahap. Sekarang ini banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan untuk mempelajari Al Qur’an dan hadits, baik formal maupun nonformal dari tingkat dasar sampai tingkat yang tinggi. Dari pendidikan formal seperti MI, MTs, MA dan seterusnya, sedangkan yang nonformal seperti TPQ, Madrasah diniyah, pondok pesantren dan sebagainya, itu semua bertujuan supaya generasi Islam tetap dapat mempelajari Al Qur’an dan hadits dengan harapan mereka kelak menjadi generasi yang mencintai Al Qur’an dan hadits serta mampu mengajarkannya kepada generasai selanjutnya.
Kedua, setelah  kita mempelajarinya dengan baik, tugas kita selanjutnya adalah menjaganya dengan menghafalkannya jangan sampai lupa atau bahkan meninggalkannya sama sekali. Hendaklah Al Qur’an menjadi bacaan wajib bagi kita sehari-hari, karena sebaik-baik bacaan adalah bacaan Al Qur’an. Karena orang yang mencintai sesuatu maka dia akan dengan senang hati selalu menyebut menyebut (membacanya) setiap saat, sebagaimana kita mencintai Allah subhanahu wata’ala, maka kita akan selalu menyebut nama-Nya dalam Dzikir kita.
Ketiga adalah mengamalkannya sebagai tahap paling inti atas apa yang telah dipelajarinya dari Al Qur’an dan hadits. Sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh para sahabat Nabi Muhammad sholallaahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf yang menjadikan Al Qur’an dan hadits sebagai sandaran dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik ibadah maupun muamalah. Mereka telah benar-benar meneladani Rasulullah sholallaahu ‘alaihi wasallam sebagai idola hidup mereka, karena akhlak Rasulullah Sholallaahu ‘alaihi wasallam adalah Al Qur’an yang menghasilkan sabda-sabda sebagai penjabaran dan penjelas dari Al Qur’an yaitu hadits.
Manfaat Mencintai Al-Qur’an dan Hadits
Al-Qur’an dan Hadits merupakan dua kitab pokok dalam memhami ajaran Islam. Mencintai keduanya tentu banyak membawa manfaat. Diantara manfaat mencintai Al-Qur’an dan hadits adalah sebagai berikut:
  1. Memperoleh nasihat, obat hati, petunjuk, dan rahmat dari Allah SWT.
Allah SWT  berfirman
Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhnmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. (QS. Yunus/10: 57)
  1. Terhindar dari kesesatan dan kecelakan dunia dan akherat.
Allah Swt. berfirman
Jika datng kepadamu petunjuk dari-Ku maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti
petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Taha/20: 123)
  1. Memperoleh kecintaan dan ampunan dari Allah Swt.
Allah Swt. berfirman
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Alah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosam.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran/3: 31)
Perilaku Orang yang Mencintai Al-Qur’an dan Hadits
Setelah memperhatikan bentuk-bentuk mencintai Al-ur’an dan hadits, perilaku keduanya dapat diwujudkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       berupaya mewujudkan berdirinya taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di lingkungan masing-masing,
b.      ikut serta secar aktif dalam upaya melancarkan jalnnya TPQ, baik denngan pikiran, tenaga, mapun materi,
c.       menyedikan waktu khusus untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits untuk kemudian di ajrakan kepada orang lain,
d.      mengajak orang-orang yang belum mau belajar Al-Qur’an dan hadits, dan
e.       selalu menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai dasar dalam segala tindakan dan cara berpikirnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Pada jaman akhir ini Perselisihan karena perbedaan pemahaman yang terjadi  boleh jadi dikarenakan segelintir kaum muslim terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga cara memahami Al Qur'an dan Hadits mengikuti cara  pemahaman  yang serampanmenurut pikiran dan nafsunya mereka sendiri.
            Memahami Al Qur'an dan Hadits dengan makna dzahir atau yang kami namakan pemahaman dengan metodologi “terjemahan saja” berdasarkan arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi). Hal ini umum terjadi pada mereka yang memahami agama berlandaskan muthola’ah , menelaah kitab dengan akal pikirannya sendiri.
Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)
Dalam memaknai Al-Qur'an tersebut ada 17 Ilmu yang harus dikuasai agar bisa memahaminya dengan benar tidak serampangan, adalah sebagai berikut ;
  1. Ilmu Mawathin al-Nuzul.
Ilmu yang menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awal dan akhirnya. Kitab yang membahas ilmu ini banyak. (Diantaranya ialah al-Itqan, tulisan al-Suyuthi)
  1. Ilmu Tawarikh al-Nuzul.
Ilmu yang menerangkan dan menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya, satu demi satu, dari awal turun hingga akhirnya, dan tertib turun surat dengan sempurna.
3.      Ilmu Asbab al-Nuzul.
Ilmu yang menerangkan sebab-sebab turun ayat. (Diantara kitab yang menjelaskan hal ini ialah Lubab al-Nazul karangan al-Suyuthi)
  1. Ilmu Qira'at.
Ilmu yang menerangkan rupa-rupa Qira'at (bacaan al-Qur'an yang diterima dari Rasulullah SAW). (Seindah-indah kitab untuk mempelajari ilmu ini ialah kitab al-Nasyr Fi Qira'at al-Asyr, tulisan Ibnu Jazary)
  1. Ilmu Tajwid.
Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur'an, tempat mulai dan pemberhentianny­a, dan lain-lain yang berhubungan dengan itu.
  1. Ilmu Gharib al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang halus, tinggi, dan pelik.
  1. Ilmu I'rabil Qur'an.
Ilmu yang menerangkan baris al-Qur'an dan kedudukan lafal dalam ta'bir (susunan kalimat). Di antara kitab yang memenuhi kebutuhan dalam membahas ilmu ini ialah Imla al-Rahman, karangan Abdul Baqa al-Ukbary.
  1. Ilmu Wujuh wa al-Nazhair.
Ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur'an yang banyak arti; menerangkan makna yang dimaksud pada satu-satu tempat. (Ilmu ini dapat mempelajari dalam kitab Mu'tarak alAqran, karangan al-Suyuthi)
  1. Ilmu Ma'rifat al-Muhkam wa al-Mutasyabih.
Ilmu yang menyatakan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih. (Salah satu kitab mengenai illmu ini ialah al-Manzhumah al-Sakhawiyah, susunan Imam al-Sakhawy)
  1. Ilmu Al-Nasikh wa Al-Mansukh.
Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufassir. (Untuk mempelajari ilmu ini dapat dibaca kitab al-Nasikh wa al-Mansukh, susunan Abu Ja'far al-Nahhas dan al-Itqan karangan al-Suyuthi)
  1. Ilmu Bada'i Al-Qur'an.
Ilmu yang membahas keindahan-keind­ahan Al-Qur'an. Ilmu ini menerangkan kesusasteraan Al-Qur'an, kepelikan-kepel­ikan dan ketinggian-keti­nggian balaghah-nya. (Untuk ini dapat juga dibaca kitab al-Itqan karangan al-Suyuthi)
  1. Ilmu I'dazAal-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan kekuatan susunan tutur al- Qur'an, sehingga ia dipandang sebagai mukjizat, dapat melemahkan segala ahli bahasa Arab. (Kitab yang memenuhi keperluan ini ialah I’jaz al-Qur'an, karangan al-Baqillany)
  1. Ilmu Tanasub Ayat al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. (Kitab yang memaparkan ilmu ini ialah, Nazhmu al-Durar karangan Ibrahim al-Riqa'iy)
  1. Ilmu Aqsam al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di dalam al-Qur'an.
  1. Ilmu Amtsal al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan segala perumpamaan yang ada dalam al-Qur'an.(Kitab yang dapat dipelajari untuk ilmu ini antara lain Amtsal al-Qur'an karangan al-Mawardi)
  1. Ilmu Jidal Al-Qur'an.
Ilmu untuk mengetahui rupa-rupa debat yang dihadapkan Al- Qur'an kepada kaum musyrikin dan lain-lain. Ayat-ayat yang mengandung masalah ini. (Dikumpulkan oleh Najamuddin al- Thusy)
  1. Ilmu Adab al-Tilawah al-Qur'an.
Ilmu yang mempelajari segala bentuk aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca al-Qur'an. Segala kesusilaan, kesopanan dan ketentuan yang harus dijaga ketika membaca al-Qur'an. Salah satu kitab yang amat baik.